REZEKI MUKMIN DAN KEJUTAN ILAHI
Oleh: Yuliantoro
Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Dalam lanskap kehidupan modern yang serba cepat, manusia makin terbiasa mengandalkan perhitungan, rencana, dan strategi. Namun bagi seorang mukmin, ruang paling menentukan justru terletak pada sesuatu yang tak bisa dihitung: “kejutan ilahi”. Al-Qur’an menyebutnya sebagai rezeki yang datang “min ḥaytsu lā yaḥtasib”—dari arah yang tidak disangka-sangka (QS. At-Thalaq [65]: 2–3). Ayat ini bukan hanya janji spiritual, tetapi prinsip eksistensial: hidup tidak sepenuhnya bergerak menurut rumus manusia. Ada tiket rahasia Tuhan yang hanya diberikan pada hamba tertentu.
Ulama besar seperti Al-Ghazali menegaskan bahwa rizq bukan sekadar uang atau materi. Dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ia menjelaskan bahwa rezeki mencakup kesehatan, ilmu, ketenangan batin, lingkungan pertemanan yang menuntun pada kebaikan, hingga peluang yang memperluas hidup seseorang. Dengan pemahaman ini, kejutan ilahi bisa berupa seseorang yang tiba-tiba hadir membawa jalan keluar, keputusan kecil yang berbuah besar, atau kesembuhan yang tak masuk akal.
Nabi Muhammad SAW memberikan gambaran yang membumi tentang ritme rezeki itu. Dalam hadis riwayat Ahmad, beliau bersabda bahwa andaikata manusia bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya mereka akan diberi rezeki seperti burung: berangkat pagi dalam keadaan lapar, pulang sore dalam keadaan kenyang. Burung tidak tahu di mana makanan, tapi ia tetap bergerak. Di persimpangan antara usaha dan ketenangan itulah kejutan Tuhan bekerja.
Salah satu kunci rezeki tak terduga adalah istighfar. Hadis riwayat Abu Dawud menyatakan bahwa siapa memperbanyak istighfar akan diberi farajan min kulli ḍīq (kelapangan dari setiap kesempitan) dan makhrajan min kulli hamm (jalan keluar dari setiap kesulitan). Hal ini dipertegas QS. Nuh [71]: 10–12 yang menghubungkan istighfar dengan hujan, kesuburan, harta, dan keturunan. Istighfar bukan sekadar ibadah, tapi pembersihan batin yang membuat aliran rahmat lebih mudah masuk. Secara psikologis, istighfar bekerja layaknya “detoks mental”. Studi psikologi positif menunjukkan bahwa pikiran yang bersih dari rasa bersalah dan kecemasan meningkatkan kemampuan menyikapi stres dan memperkuat intuisi. Banyak pintu rezeki tertutup bukan karena Tuhan menutupinya, tetapi karena hati manusia terlalu berisik untuk mendengar ketika peluang mengetuk.
Dalam perspektif ekonomi Islam modern, ekonom Umer Chapra menekankan bahwa keberkahan ekonomi hanya lahir dari titik temu antara kerja keras dan integritas spiritual. Kekayaan yang berkah tidak selalu masuk melalui jalur yang logis. Sebab itu, dalam ekonomi masyarakat beriman, ada faktor tak terlihat—divine grace—yang menyempurnakan ikhtiar manusia. Menariknya, para ulama seperti Al-Maraghi memandang rezeki tak terduga sebagai lutf, kelembutan Allah kepada hamba pilihan.
Orang-orang yang mendapat rezeki dari arah tak disangka-sangka sejatinya adalah orang-orang istimewa. Keistimewaan itu bukan karena status sosial atau kepintaran, melainkan karena kualitas hati. Mereka adalah orang-orang yang menjaga kesucian batin, memperbanyak istighfar, menjaga integritas, tidak menyakiti orang lain, dan menanam kebaikan bahkan ketika tidak ada yang melihat. Tuhan menghadiahkan kejutan kepada mereka karena ia tahu bahwa rezeki itu tidak akan merusak hati mereka. Kejutan ilahi memang bisa membahagiakan, tetapi juga menguji. Orang yang tiba-tiba diberi kelonggaran hidup diuji apakah ia bersyukur atau terlena, apakah ia berbagi atau justru menutup diri. Banyak orang tidak siap menerima rezeki besar secara tiba-tiba; justru di situ letak kenapa rezeki demikian hanya turun kepada jiwa-jiwa yang telah ditempa. Namun demikian, ajaran tentang kejutan ilahi tidak berarti manusia boleh pasif. Burung dalam hadis tadi tetap terbang.
Dalam konteks kini, ikhtiar berarti belajar, bekerja jujur, membangun jejaring, memperbaiki karakter, dan mengasah kompetensi. Ketika usaha dipadukan dengan tawakal dan istighfar, rezeki menjadi lebih lapang; dan kejutan-kejutan indah itu lebih mudah hadir. Pada akhirnya, hidup seorang mukmin tidak pernah sepenuhnya dapat diprediksi. Ada masa sulit, namun selalu ada jalan keluar. Ada hari gelap, namun sering tiba-tiba terbuka celah cahaya di titik yang tak kita duga. Hidup menjadi perjalanan yang tidak hanya dituntun oleh strategi, tetapi juga oleh kelembutan tangan Tuhan yang bekerja di balik layar.
Dalam dunia yang kian bising dan melelahkan, keyakinan pada kejutan ilahi bukan pelarian—melainkan energi. Ia menguatkan bahwa manusia tidak berjalan sendirian. Ada tangan Tuhan yang merangkai pertemuan, menggerakkan hati orang lain, membuka pintu sempit, dan menyiapkan kejutan-kejutan indah pada waktu yang paling tepat. (Tor)
Referensi
Al-Ghazali, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn. Beirut: Dar al-Fikr
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. Tafsir al-Maraghi. Kairo: Matba’ah Mustafa al-Babi.
Chapra, M. Umer. Islam and the Economic Challenge. The Islamic Foundation, 1992.
H.R. Ahmad; H.R. Abu Dawud. Seligman, M.E.P. Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-being. Free Press, 2011.
Qur’an Surat At-Thalaq ayat 2–3; Surat Nuh ayat 10–12.
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar