TERAS

Menuntun, Bukan Menjejali: Perspektif Ki Hajar Dewantara

  • Administrator
  • Selasa, 24 Maret 2026
  • menit membaca
  • 43x baca
Menuntun, Bukan Menjejali:  Perspektif Ki Hajar Dewantara

Menuntun, Bukan Menjejali:  Perspektif Ki Hajar Dewantara 

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Di sebuah ruang kelas yang sibuk mengejar target kurikulum, seorang siswa duduk menatap papan tulis penuh rumus. Ia mencatat, menghafal, lalu bersiap menghadapi ujian. Nilainya mungkin akan baik. Tetapi ada satu pertanyaan jarang diajukan, "Apakah ia sedang benar-benar bertumbuh sebagai manusia, atau sekadar sedang dilatih untuk menjawab soal?"

 

Kegelisahan semacam ini sesungguhnya telah lama dijawab oleh Ki Hajar Dewantara. Jauh sebelum istilah “kurikulum merdeka” atau “pembelajaran berbasis kompetensi” populer, ia telah merumuskan fondasi pendidikan yang melampaui sekadar transfer ilmu. Baginya, pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

 

Dalam pandangan itu, anak bukan wadah kosong. Ia adalah individu yang telah membawa potensi, rasa, dan kehendak. Maka pendidikan tidak boleh menjelma menjadi proses penyeragaman. Ia harus menjadi ruang yang memberi kebebasan sekaligus arah—membiarkan anak tumbuh, tetapi tetap dituntun.

 

Di titik inilah perbedaan antara pendidikan dan pengajaran menjadi terang. Pengajaran berurusan dengan pengetahuan: apa yang harus diketahui, bagaimana cara memahami, dan bagaimana mengukurnya. Sementara pendidikan bergerak lebih dalam—ia menyentuh watak, membentuk sikap, dan mengasah kepekaan manusia.

 

Jika menengok praktik pendidikan Indonesia hari ini, batas antara keduanya kerap kabur. Sekolah lebih sering terjebak pada logika pengajaran: kurikulum yang padat, evaluasi yang seragam, serta orientasi pada capaian angka. Guru didorong untuk menuntaskan materi, sementara siswa dituntut untuk mencapai standar tertentu dalam waktu yang sama.

Akibatnya relasi antara guru dan murid cenderung satu arah. Guru menjadi pusat pengetahuan, murid menjadi penerima. Ruang dialog menyempit, kreativitas kerap tersisih, dan keunikan tiap anak perlahan tereduksi oleh standar yang seragam.

 

Ki Hajar Dewantara menawarkan pendekatan yang jauh lebih humanis melalui Sistem Among. Dalam prinsip ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, guru tidak hanya berdiri di depan untuk mengajar, tetapi juga hadir di tengah untuk membangun semangat, dan di belakang untuk memberi dorongan.

 

Sistem Among menempatkan pendidikan sebagai relasi yang hidup. Guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan teladan yang menghidupi nilai, fasilitator yang membuka ruang, dan pendamping yang memahami proses belajar setiap anak.

 

Sayangnya dalam praktik kontemporer semangat ini belum sepenuhnya menjadi arus utama. Tekanan administratif, tuntutan capaian akademik, serta budaya kompetisi membuat pendidikan karakter sering kali tersisih. Budi pekerti—yang oleh Ki Hajar Dewantara ditempatkan sebagai inti pendidikan—justru menjadi aspek yang paling sulit diukur, sehingga kerap diabaikan.

 

Di sisi lain, upaya reformasi seperti konsep “Merdeka Belajar” sebenarnya menunjukkan adanya kesadaran untuk kembali pada ruh pendidikan yang lebih membebaskan. Fleksibilitas kurikulum, pembelajaran kontekstual, hingga penekanan pada profil pelajar Pancasila adalah langkah ke arah yang sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara.

Namun, perubahan kebijakan tidak serta-merta mengubah cara pandang. Selama pendidikan masih dipahami sebagai proses mengejar nilai dan standar semata, maka esensi “menuntun” akan terus tergantikan oleh “menjejali”.

Maka, membaca ulang Ki Hajar Dewantara hari ini bukanlah upaya nostalgia, melainkan refleksi kritis. Pendidikan Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar pembaruan kurikulum; ia memerlukan perubahan paradigma.

 

Dari yang semula berorientasi pada hasil, menjadi berorientasi pada proses. Dari yang menekankan keseragaman, menuju penghargaan atas keberagaman potensi. Dari yang berpusat pada guru, menjadi berpusat pada pertumbuhan anak.

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan tentang seberapa banyak yang dihafal, melainkan tentang bagaimana seseorang belajar memahami dirinya, lingkungannya, dan nilai-nilai yang akan ia bawa sepanjang hidupnya. Hal ini sejalan dengan pesan Ki Hajar Dewantara, tugas pendidikan bukanlah mengisi melainkan menuntun. (Yun)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar

Berita Terkait