TERAS

Ratu Alit, Pembentuk Karakter HB IX

  • Administrator
  • Senin, 22 Desember 2025
  • menit membaca
  • 137x baca
Ratu Alit, Pembentuk Karakter HB IX

Ratu Alit, Pembentuk Karakter HB IX

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Peringatan Hari Ibu 2025 kembali mengingatkan kita pada satu kenyataan mendasar bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan negara atau kemajuan ekonomi, tetapi oleh peran para ibu dalam membentuk karakter generasi penerus. Tema “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045” menemukan relevansinya justru dalam kisah-kisah historis yang sering luput dari sorotan.


Salah satu teladan penting datang dari sosok Raden Ajeng Kustilah atau Kanjeng Ratu Alit. Dalam ruang domestik keratin yang kerap disalahpahami sebagai dunia privilese, Raden Ajeng Kustilah justru menanamkan nilai-nilai dasar yang melampaui zamannya, mencakup disiplin, kemandirian, kesederhanaan, dan keberanian berpikir.


Putranya, Gusti Raden Mas Dorojatun yang kemudian bergelar  Sri Sultan Hamengkubuwono IX, tidak dibesarkan sebagai bangsawan yang dimanjakan. Sejak dini, ia dididik untuk hidup sederhana, bergaul dengan masyarakat luas, serta memahami denyut kehidupan rakyat. Pendidikan ini bukan sekadar soal etika Jawa, tetapi tentang pembentukan karakter kepemimpinan.


Yang menarik, Raden Ajeng Kustilah tidak menutup diri dari perubahan. Ia justru mendorong anaknya menempuh pendidikan modern, bahkan hingga ke Belanda. Henkie (panggilan Gusti Darojatun dari orang-orang Belanda) belajar  ilmu-ilmu barat yang kala itu dianggap asing bahkan berisiko, seperti Indologi dan administrasi. 
Pendidikan Barat tidak menjadikan Henkie tercerabut dari nilai Jawa. Sebaliknya, ia tumbuh menjadi pribadi yang visioner sekaligus berprinsip. Ketika kelak berhadapan dengan pemerintah kolonial Belanda, Sultan Hamengkubuwono IX tampil bukan sebagai raja feodal yang tunduk, tetapi sebagai pemimpin yang berani berdebat soal kedaulatan, martabat, dan masa depan bangsanya. Di titik ini peran ibu menjadi sangat nyata.

Nasionalisme Sultan HB IX tidak lahir tiba-tiba. Ia dibentuk melalui pendidikan karakter sejak masih kecil oleh seorang perempuan yang memahami bahwa kekuasaan sejati bukan pada tahta, melainkan pada nilai yang ditanamkan.
Hari Ibu semestinya tidak berhenti pada perayaan simbolik. Kisah Raden Ajeng Kustilah mengajarkan bahwa perempuan berdaya bukan hanya mereka yang tampil di ruang publik, tetapi juga mereka yang membentuk manusia unggul dari ruang domestik, dengan visi jauh ke depan.


Dalam konteks Indonesia Emas 2045, teladan ini menjadi sangat relevan. Kita membutuhkan generasi yang cerdas secara intelektual, kuat secara moral, terbuka terhadap dunia, tetapi kokoh dalam jati diri. Dan fondasi itu, sebagaimana ditunjukkan sejarah, sering kali dibangun oleh para ibu dengan disiplin yang tegas, kasih sayang yang hangat, dan keberanian melampaui zamannya.
Raden Ajeng Kustilah mungkin tidak tercatat sebagai tokoh politik besar. Namun melalui didikannya, ia ikut menentukan arah sejarah Indonesia. Inilah makna sejati Hari Ibu, yakni  merayakan perempuan yang membentuk masa depan bangsa, bahkan sebelum bangsa itu lahir sepenuhnya. (yun)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar

Berita Terkait

Radio, Dulu dan Sekarang

Radio, Dulu dan Sekarang

  • Selasa, 13 Januari 2026
Mendengar dengan Cara yang Berbeda

Mendengar dengan Cara yang Berbeda

  • Minggu, 11 Januari 2026