TERAS

Prasangka Terhadap Tuhan: Perspektif Keagamaan dan Psikologi Modern

  • Administrator
  • Sabtu, 22 November 2025
  • menit membaca
  • 117x baca
Prasangka Terhadap Tuhan: Perspektif Keagamaan dan Psikologi Modern

Prasangka terhadap Tuhan

Perspektif Keagamaan dan Psikologi Modern

Oleh: Yuliantoro

Doa sering dipahami sebagai rangkaian kata setelah salat atau lirihnya permohonan pada malam yang sunyi. Namun sebelum kata terucap, pikiran lebih dulu bergerak. Dalam banyak ajaran agama dan temuan ilmu modern, pikiran bukan sekadar proses mental, tetapi energi yang membentuk sikap hidup, mengarahkan tindakan, dan dalam pandangan spiritual menjadi doa yang tidak terucapkan.

Islam menegaskan hubungan langsung antara batin manusia dan cara Tuhan memperlakukannya. Dalam hadis qudsi disebutkan: “Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, keyakinan batin—baik optimis maupun pesimis—menjadi pintu datangnya pertolongan Tuhan. Maka, pikiran adalah sikap batin yang berfungsi seperti doa.

Al-Qur’an menyatakan bahwa perubahan hidup dimulai dari dalam diri manusia:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini bukan hanya seruan perubahan sosial, tetapi penegasan bahwa cara berpikir menentukan arah hidup. Berpikir baik bukan sekadar slogan motivatif, tetapi bentuk keyakinan bahwa Tuhan menyediakan jalan kebaikan bagi yang mengusahakannya.

Pemikiran agama ini selaras dengan ilmu kontemporer. Teori cognitive behavioral menunjukkan bahwa pikiran membentuk emosi dan perilaku. Pikiran negatif menumbuhkan kecemasan dan tindakan destruktif; pikiran positif mendorong daya tahan dan keberhasilan.

Neurosains melalui konsep neuroplasticity membuktikan bahwa otak berubah mengikuti pola pikir yang dibiasakan. Pikiran optimis memperkuat jalur saraf motivatif, sementara pikiran destruktif memperkuat trauma dan kecemasan.

Dengan kata lain, apa yang konsisten kita yakini menjadi takdir psikologis yang membentuk realitas hidup. Di sinilah pikiran menyatu dengan doa.

Pikiran Negatif: Doa yang Tak Disengaja

Jika pikiran baik adalah doa, maka pikiran buruk juga demikian. Banyak orang tanpa sadar "mendoakan" keburukan untuk dirinya sendiri lewat keyakinan destruktif seperti:

• “Aku memang tidak pantas berhasil.”

• “Rezekiku pasti sulit.”

• “Aku memang orang sial.”

Inilah afirmasi batin yang memperkuat prasangka buruk terhadap diri dan Tuhan. Nabi ﷺ mengingatkan:

“Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian.” (HR. Muslim)

Doa tidak selalu lahir dalam kalimat formal—sering ia berupa pola pikir yang terus dipelihara.

Berpikir Baik sebagai Ibadah

Berpikir baik bukan menutup mata dari kenyataan pahit, tetapi memilih harapan sebagai orientasi langkah. Ini bagian dari husnuzan kepada Allah dan sesama. Optimisme sejati tumbuh dari tawakal, bukan kesombongan.

Al-Qur’an menegaskan:

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)

Ayat ini bukan sekadar informasi, tetapi ajakan untuk membaca ujian hidup dengan pikiran yang jernih dan penuh harapan.

Mengarahkan Pikiran sebagai Doa

Jika pikiran adalah doa, maka ia perlu diarahkan dengan sadar melalui:

• membiasakan syukur dalam cara berpikir

• menetapkan niat dan orientasi hidup sejak pagi

• mengganti keluhan dengan refleksi dan permohonan

Doa yang baik lahir dari kesadaran, keyakinan, dan tindakan yang sejalan.

Pikiran sebagai Jalan Mendekat kepada Tuhan

Sering kita mencari doa yang paling mustajab, tetapi lupa bahwa doa pertama adalah cara kita memandang Tuhan dan diri sendiri. Ketika kita berpikir baik, kita seakan berkata:

"Aku percaya Engkau Maha Baik, dan aku siap menerima kebaikan-Mu."

Pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang apa yang terjadi, tetapi bagaimana kita memaknainya. Maka, jagalah pikiran—sebab pikiranmu adalah doa, dan doa adalah jalan turunnya rahmat Tuhan. (Tor)

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar