TERAS

Sungkeman di Tengah Gelombang Modernitas

  • Administrator
  • Senin, 23 Maret 2026
  • menit membaca
  • 7x baca
Sungkeman di Tengah Gelombang Modernitas

Sungkeman di Tengah Gelombang Modernitas

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Hari Raya Idulfitri adalah titik puncak perjalanan spiritual umat Islam. Momentum kembali pada fitrah setelah sebulan penuh menata diri, menahan hasrat, dan mempertajam kepekaan sosial. Lebaran tidak hanya menandai kemenangan personal, tetapi juga membuka ruang rekonsiliasi.  Memperbaiki relasi, menyambung yang renggang, serta merajut kembali kehangatan keluarga. Dalam tradisi Jawa nilai-nilai tersebut terwujud pada praktik sungkeman.

Sungkeman bukan sekadar simbol budaya, melainkan pengalaman batin yang sarat makna. Anak bersimpuh di hadapan orang tua, merendahkan diri dan egonya, lalu menyampaikan permohonan maaf dengan kesadaran penuh. Di saat yang sama, ia menerima doa restu sebagai bekal hidup. Dalam suasana yang hening dan emosional, sungkeman menghadirkan kejujuran perasaan yang sulit muncul dalam rutinitas sehari-hari.

Di masa lalu, pagi Idulfitri di kampung-kampung Jawa memiliki pola yang khas. Setelah salat Id, keluarga berkumpul dalam suasana hangat. Orang tua menjadi pusat penghormatan, sementara anak-anak hingga cucu bergantian bersimpuh. Bahasa Jawa krama inggil mengalir halus, menghadirkan kesantunan yang mendalam. Air mata yang jatuh bukanlah tanda kelemahan, melainkan ekspresi keikhlasan dalam saling memaafkan. Tradisi ini juga melampaui batas keluarga inti. 

Sungkeman berkembang dalam bentuk sowan atau "ujung", kunjungan kepada sesepuh, tetangga, hingga tokoh masyarakat. Di situ terbangun struktur sosial yang menjunjung etika dimana yang muda menghormati yang tua, yang junior menghargai yang senior. Dalam konteks ini sungkeman berfungsi sebagai perekat sosial yang menjaga harmoni komunitas.

Perubahan zaman membawa pergeseran,  modernitas mengubah cara manusia berinteraksi. Di perkotaan sungkeman kerap disederhanakan menjadi sekadar berjabat tangan. Bahasa krama inggil semakin jarang digunakan, digantikan oleh bahasa Indonesia yang lebih praktis. Bahkan silaturahmi pun mulai berpindah ke ruang digital melalui pesan singkat, panggilan video, atau unggahan media sosial.

Efisiensi menjadi ciri era modern, tetapi sering kali mengorbankan kedalaman makna. Ketika ruang bagi sungkeman menyempit, yang hilang bukan hanya bentuk tradisinya melainkan juga nilai yang dikandungnya. Dalam setiap gerak bersimpuh tersimpan pelajaran penting berupa kerendahan hati, keberanian mengakui kesalahan, dan kesiapan untuk memaafkan.

Secara kultural sungkeman merupakan hasil dialektika antara ajaran Islam dan budaya Jawa. Nilai saling memaafkan dalam Islam diterjemahkan ke dalam simbol-simbol lokal yang halus dan penuh makna. Secara historis praktik ini juga berakar dari tradisi keraton, sebelum akhirnya menyebar dan membumi dalam kehidupan masyarakat luas.

Lebih dari sekadar warisan budaya, sungkeman adalah sarana pendidikan karakter. Di dalamnya terkandung ajaran tentang adab, penghormatan kepada orang tua, serta kesadaran moral dalam menjaga hubungan sosial. Dalam dunia yang kian individualistik, nilai-nilai ini justru semakin mendesak untuk dipertahankan. Tanpa fondasi akhlak yang kuat, kemajuan material berisiko melahirkan kehampaan sosial.

Ironis, gaya hidup modern sering memandang tradisi seperti sungkeman sebagai sesuatu yang usang. Lebaran lebih kerap dimaknai sebagai momen konsumsi, wisata, atau rutinitas tahunan belaka. Akibatnya, ruang refleksi dan kehangatan keluarga perlahan menyusut.

Di titik ini, kesadaran kolektif menjadi penting. Sungkeman tidak harus dipertahankan secara kaku dalam bentuknya, tetapi nilai yang dikandungnya tidak boleh hilang. Bentuk boleh beradaptasi, namun esensi kerendahan hati, penghormatan, dan kejujuran emosional harus tetap hidup.

Peran keluarga menjadi krusial. Orang tua tidak hanya menjalankan tradisi, tetapi juga mewariskan nilai. Anak-anak perlu dikenalkan sejak dini bahwa meminta maaf bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan moral. Menghormati orang tua bukan sekadar kewajiban, tetapi wujud cinta dan bakti. Lebaran bukan hanya tentang kemenangan spiritual, tetapi juga komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sungkeman adalah salah satu jalan menuju ke sana, sebuah praktik sederhana yang menyimpan kedalaman makna.

Selama tradisi ini terus dirawat dan diwariskan, Idulfitri tidak akan sekadar menjadi perayaan seremonial. Ia akan tetap menjadi “sekolah akhlak” yang hidup, ruang belajar lintas generasi tentang kerendahan hati, penghormatan, dan kemanusiaan. Di tengah derasnya arus zaman, sungkeman adalah jangkar nilai yang menjaga manusia tetap berakar. (Yun)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar