TERAS

Situs & Artefak Jadi Penghubung Masa Lalu dan Kini

  • Administrator
  • Minggu, 16 Juni 2024
  • menit membaca
  • 120x baca
Situs & Artefak Jadi Penghubung Masa Lalu dan Kini

Situs & Artefak Jadi Penghubung Masa Lalu dan Kini

Yogyakarta,  jogja-ngangkring.com  - Situs dan artefak harus bisa menceritakan masa lalu dan menjadi daya tarik wisata yang edukatif. Di samping itu situs dan artefak sangat penting untuk dijaga sekaligus dimanfaatkan sebagai penghubung masa kini dan masa lalu.

Demikian benang merah Focus Grup Discussion (FGD) bertajuk: Optimalisasi Situs & Artefak Sebagai Aset Potensi Kebudayaan dan Pariwisata di Jamur Jawon Resto Jl. Wonosari Km 7 Wiyoro Banguntapan Bantul DIY, Sabtu (15/6/24). Acara yang diselenggarakan oleh kelompok pemangku budaya Yogyakarta  dalam rangka Hari Purbakala ke 111 itu menghadirkan tiga nara sumber: Arya Ariyanto SE MMPar (Direktur Utama PT Jogkem Grup), Drs. Heroe Poerwadi MA dan Dra. Ari Setyastuti MSi.

Arya Ariyanto yang juga pelaku wisata sekaligus dosen Pariwisata di Yogyakarta mengatakan situs dan artefak memiliki potensi menjadi objek wisata. Sepanjang dinarasikan dengan dengan baik, situs dan artefak akan menjadi objek wisata yang diminati wisatawan. "Bagi saya sebagai pelaku wisata, apapun bisa dijadikan objek wisata. Lha wong bencana alam saja bisa, misalnya Merapi dengan lava tour, lumpur Lapindo. Itu kan semua memiliki daya tarik. Sebuah tempat akan menjadi daya tarik pengunjung wisata sepanjang dinarasikan  cerita sejarahnya di masa lalu. Jadi menarik," papar Arya Ariyanto yang tampil pada sesi kedua FGD.

Dikatakannya, sesuatu akan memiliki daya tarik wisatawan apabila dikemas dengan baik melalui cerita cerita sejarah. Di samping itu tentunya harus dilengkapi sarana dan prasarana yang pendukung objek wisata tersebut. Seperti kebijakan birokrasi yang memudahkan dan memberi kelonggaran berkembangnya Pariwisata. 
"Pariwisata harus bisa menyediakan sarana dan prasarana yang memadai. Sarana finansial penting untuk melestarikan sejarah budaya, situs warisan lokal, adat istiadat akan merangsang minat terhadap kerajinan lokal, kegiatan tradisional, lagu, tarian."

Sementara Heroe Poerwadi pejabat Wakil Walikota Yogyakarta 2017 -2022 pentingnya menjaga dan memanfaatkan situs dan artefak sebagai penghubung masa lalu dengan masa kini. Ia mencontohkan, situs seperti Candi Borobudur dan Prambanan tidak hanya menawarkan pemandangan indah. Namun juga membawa orang pada perjalanan sejarah. "Situs dan artefak harus bisa menceritakan sejarah masa lalu menjadi daya tarik wisata edukatif. Penjajah pernah menghancurkan situs situs penting untuk melemahkan identitas bangsa."

Oleh karena itu, lanjut Heroe Poerwadi penjelasan lengkap tentang situs sejarah sangat penting agar pengunjung dapat menghargai dan memahami nilai nilai yang diwariskan. Selain sebagai objek sejarah, situs dan artefak juga memberi nilai relevan bagi masyarakat saat ini. "Artefak dapat direvitalisasi melalui kreativitas budayawan agar beradaptasi dengan  zaman modern.

Sementara Arkeolog Ari Setyastuti menekankan bahwa Yogya telah lama menjadi destinasi wisata unggulan di Indonesia, dikenal dengan kekayaan budaya dan warisan sejarahnya. Yaitu mendorong pariwisata berkelanjutan dengan fokus pada kelestarian alam, budaya, partisipasi aktif masyarakat, dan kesejahteraan lokal, bukan sekadar peningkatan jumlah wisatawan. 

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 telah melibatkan swasta dan komunitas dalam pelestarian cagar budaya, sementara perguruan tinggi mencetak ahli di bidang kebudayaan dan pariwisata. Tantangan utama saat ini adalah menjaga keberlanjutan perubahan paradigma ini serta memasukkan penelitian arkeologis dan pelestarian cagar budaya ke dalam strategi kebudayaan nasional.

Model pentahelix, melibatkan komunitas, akademisi, pebisnis, pemerintah, dan media, digunakan untuk integrasi program dan koordinasi di Yogyakarta. Ini bertujuan untuk meningkatkan manfaat ekonomi, pelestarian sumber daya alam dan budaya, serta kualitas hidup masyarakat lokal. Dengan pendekatan ini, Yogya diharapkan  dapat mencapai pariwisata berkelanjutan yang memberikan manfaat jangka panjang bagi semua pihak terlibat. (Yun)

 

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar