Perempuan Adat di Balik Bolo Pendem Kotagede
Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Pagi di kawasan Kotagede tidak pernah benar-benar sepi. Di sela lorong pasar dan sudut-sudut kampung, aktivitas kecil berlangsung dengan ritme yang nyaris tak berubah, umbi-umbian disusun rapi di atas tampah. Sederhana, tapi bertahan.
Di Pasar Kotagede, masih ada simbah-simbah yang setia menjajakan bolo pendem—aneka umbi rebus seperti uwi, gembili, singkong, hingga talas. Jenis makanan yang mungkin hari ini kalah mencolok dibanding jajanan modern, tapi diam-diam menyimpan manfaat yang lebih dalam dari sekadar rasa. Apa yang mereka lakukan bukan hanya berjualan. Mereka sedang menjaga satu mata rantai penting dalam kehidupan yaitu pengetahuan tentang pangan.
Umbi-umbian itu tidak hadir begitu saja di lapak. Ada proses panjang di belakangnya. Musim tanam yang tidak instan, waktu panen yang kadang hanya setahun sekali, hingga cara pengolahan yang mempertahankan kesederhanaan rasa. Semua itu adalah bagian dari sistem pengetahuan yang selama ini dipegang dan diwariskan, terutama oleh perempuan. Di titik inilah kita bisa memahami apa yang dimaksud dengan perempuan adat, bukan sebagai label, tetapi sebagai peran.
Perempuan-perempuan ini mungkin tidak menyebut diri mereka bagian dari “komunitas adat”, tetapi praktik hidup mereka mencerminkan nilai-nilai itu: menjaga apa yang ada dan memastikan sesuatu tetap bisa diwariskan. Mereka bekerja dengan ingatan. Tentang rasa, musim, dan kebiasaan yang terus diulang hingga menjadi tradisi.
Bolo pendem, dalam konteks ini, bukan sekadar makanan lama. Ia adalah pengetahuan yang hidup. Menariknya, di tengah arus makanan cepat saji dan tren kuliner modern, umbi-umbian justru menemukan ruang baru. Isu kesehatan mendorong banyak orang kembali melirik pangan alami yang direbus, dikukus, minim olahan. Apa yang dulu dianggap “ndeso”, kini hadir dengan wajah baru, lebih diterima, bahkan dicari.
Fenomena ini terlihat dari mulai bermunculannya penjual bolo pendem kukus di berbagai titik, tidak hanya di Jogja. Namun di balik tren itu, ada satu hal yang sering luput: siapa yang selama ini menjaga agar bahan, rasa, dan cara pengolahan itu tidak hilang?
Jawabannya kembali ke perempuan-perempuan di ruang-ruang kecil seperti Pasar Kotagede. Mereka bukan hanya penjual, tetapi juga pengenal rasa. Dari tangan merekalah generasi berikutnya pertama kali tahu bahwa selain roti dan makanan instan, ada pilihan lain yang lebih sederhana, lebih dekat dengan alam, dan tidak kalah nikmat. Prooses mengenalkan ini tidak bisa berdiri sendiri. Ia bergantung pada kebiasaan, pada orang tua yang mau membeli, memperkenalkan, dan membiasakan. Di sinilah peran perempuan adat menjadi penting dalam konteks hari ini, menghubungkan masa lalu dengan masa depan melalui hal yang paling dekat dengan hidup keseharian, makanan.
Mereka menjaga agar khazanah kuliner tidak berhenti sebagai nostalgia, tetapi tetap hidup dan relevan. Mereka memastikan bahwa pangan bukan hanya soal kenyang, tetapi juga soal pengetahuan, kesehatan, dan identitas.
Namun, ruang itu tidak selalu aman. Pasar yang semakin tipis, selera yang berubah, dan tekanan ekonomi membuat keberadaan mereka semakin terpinggirkan. Jika tidak ada upaya untuk mengenali dan menguatkan peran ini, bukan tidak mungkin satu per satu jenis pangan itu akan hilang, bukan karena tidak enak, tetapi karena tidak lagi dikenali.
Apa yang berlangsung di Kotagede adalah gambaran kecil dari sesuatu yang lebih besar. Bahwa perempuan, melalui praktik sederhana sehari-hari, sedang menjaga keseimbangan yang sering tidak kita sadari. Hari Kebangkitan Perempuan Adat Nusantara yang diperingati setiap tanggal 16 April sebagai pengingat bahwa di balik rasa yang kita kenal hari ini, ada kerja panjang yang dijaga dengan setia. Tanpa itu, kita mungkin masih makan, tetapi kehilangan jejak. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar