Isra Mi’raj, Rahmat Allah bagi Manusia
Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Manusia kerap memulai pemahaman dari logika padahal tidak semua hal bisa dijelaskan dengan nalar. Isra Mi’raj berada dalam wilayah itu. Sebuah peristiwa yang hingga saat ini belum bisa dibuktikan secara teknis, tetapi mengajak manusia menyadari batas dirinya dan keluasan kehendak Tuhan. Ini bukan semata kisah tentang jarak dan waktu, melainkan tentang hubungan antara Sang Pencipta dan makhluk-Nya.
Sedikit pengetahuan tentang semesta mengantar pada kesadaran, alam raya terbentang tanpa batas yang benar-benar dipahami manusia. Ukurannya terus melampaui perkiraan, sementara hukum-hukumnya masih terus dipelajari. Dari sini, manusia seharusnya belajar satu hal bahwa kehendak Allah tidak pernah bisa disederhanakan dengan ukuran manusia. Isra Mi’raj hadir untuk menegaskan kenyataan itu.
Inti peristiwa ini bukan pada perjalanannya melainkan pada amanah yang terima Rasulallah. Perintah salat yang pada mulanya berjumlah lima puluh kali sehari memperlihatkan kemahatahuan Allah atas keterbatasan manusia. Allah sepenuhnya mampu menetapkan jumlah itu tanpa perubahan apa pun. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, jumlah tersebut diturunkan menjadi lima waktu, sementara nilai pahalanya tetap.
Pengurangan itu adalah wujud kasih sayang, bukan karena Allah “mengalah”, melainkan karena Allah memahami kondisi hamba-Nya. Jika beban terlalu berat, manusia bukan hanya kelelahan, tetapi juga berisiko menjauh dan meninggalkan. Maka lima waktu salat adalah bentuk rahmat agar manusia tetap mampu menjalankan penghambaan tanpa terhimpit oleh ketidakmampuan.
Dalam kerangka ini salat memiliki dua makna sekaligus yaitu kewajiban dan hak. Kewajiban sebagai ekspresi penghambaan, dan hak sebagai ruang komunikasi dengan Allah. Salat bukan sekadar perintah, tetapi kesempatan. Kesempatan untuk menyebut, menyapa, dan mendekat. Relasi ini serupa dengan cinta yang selalu membutuhkan kehadiran dan penyebutan. Cinta yang tak pernah diungkapkan perlahan kehilangan maknanya.
Salat sejatinya tidak dimaksudkan untuk menjadi beban. Ia dihadirkan agar manusia menemukan kembali dirinya di hadapan Tuhan. Ketika salat masih dirasakan sebagai tekanan, yang bekerja baru kesadaran hukum. Tetapi ketika salat menjadi kebutuhan batin, di situlah relasi itu berubah menjadi kesadaran cinta.
Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa langit, tetapi pesan bahwa rahmat Allah selalu lebih besar dari beban hidup manusia, dan bahwa dalam setiap panggilan salat, sesungguhnya Allah sedang membuka pintu agar hamba-Nya pulang dan berbicara dengan-Nya. Apa pun yang Allah tetapkan kepada manusia bukan karena Dia membutuhkan, melainkan karena manusia membutuhkan. Allah tidak pernah kekurangan apa pun. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar