TERAS

Sinoman, Gotong Royong di Balik Tradisi “Piring Terbang”

  • Administrator
  • Senin, 13 April 2026
  • menit membaca
  • 25x baca
Sinoman, Gotong Royong di Balik Tradisi “Piring Terbang”

Sinoman, Gotong Royong di Balik Tradisi “Piring Terbang”

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Di tengah perubahan gaya resepsi pernikahan yang semakin modern, satu praktik lama masih bertahan kuat di sejumlah wilayah Jawa, terutama Solo Raya dan sebagian Yogyakarta yaitu tradisi jamuan tamu dengan sistem “piring terbang.”

Piring terbang adalah pola penyajian makanan di mana tamu tidak mengambil hidangan sendiri, melainkan duduk dan dilayani. Makanan diantar secara bertahap oleh para pramusaji dari dapur menuju kursi tamu, seolah “terbang” dari satu titik ke titik lain. Dalam praktiknya, pola ini sering dirumuskan dalam urutan USDEK: Unjukan (minuman), Sop, Dhaharan (nasi), Es, Kundur (pulang). Elemen kunci di balik sistem yang rapi itu adalah sinoman.

Sinoman merupakan kelompok warga—umumnya pemuda kampung, karang taruna, atau bahkan lintas usia—yang secara sukarela terlibat dalam penyelenggaraan hajatan. Mereka bukan pekerja katering profesional, melainkan bagian dari jejaring sosial yang hidup dalam masyarakat. Dalam konteks piring terbang, sinoman menjadi aktor utama yang memastikan seluruh rangkaian USDEK berjalan. Diawali mengantar unjukan berupa teh hangat dan kudapan pembuka, selanjutnya mereka pula yang sigap membawa sop manten, lalu menyusul hidangan utama atau dhaharan—nasi lengkap dengan lauk pauk khas hajatan. Setelah itu, mereka kembali berkeliling menyajikan es sebagai penutup. Hingga akhirnya, tanpa perlu pengumuman formal, tamu memahami bahwa rangkaian jamuan telah selesai dan fase kundur (pulang) terjadi.

Seluruh proses ini membutuhkan koordinasi, tenaga, dan kekompakan. Tidak ada sistem digital, tidak ada manajemen event profesional, tetapi semuanya berjalan relatif tertib. Di sinilah sinoman bekerja—dalam ritme yang terbangun dari kebiasaan, pengalaman kolektif, dan rasa tanggung jawab sosial.

Secara sosiologis, sinoman merupakan manifestasi nyata dari gotong royong. Ia bekerja dalam logika resiprositas, hari ini membantu hajatan orang lain, esok akan dibantu saat memiliki hajatan sendiri. Tidak ada transaksi ekonomi utama, yang ada adalah pertukaran sosial.

Lebih dari itu, kehadiran sinoman juga membentuk pengalaman tamu. Dalam sistem piring terbang, tamu tidak berdiri, tidak mengantre, dan tidak perlu mencari tempat duduk sambil membawa piring. Mereka datang, duduk, dan dilayani. Ada nuansa penghormatan yang kuat—bahwa tamu diposisikan sebagai pihak yang dimuliakan.

Berbeda dengan sistem prasmanan yang menekankan efisiensi dan kecepatan, piring terbang dengan dukungan sinoman justru menonjolkan relasi sosial dan kehangatan. Memang, dari sisi praktis, sistem ini lebih kompleks dan membutuhkan banyak tenaga. Namun kompleksitas itu sekaligus menjadi ruang interaksi sosial yang tidak tergantikan.

Di banyak tempat, sinoman mulai berkurang seiring meningkatnya ketergantungan pada jasa katering modern. Namun di komunitas yang masih mempertahankannya, sinoman justru menjadi simbol kebanggaan. Ia menunjukkan bahwa sebuah hajatan tidak hanya tentang konsumsi, tetapi juga tentang keterlibatan.

Dalam konteks ini, USDEK bukan sekadar urutan hidangan, dan piring terbang bukan hanya metode penyajian. Keduanya adalah panggung di mana sinoman bekerja—menghidupkan nilai gotong royong dalam bentuk yang paling konkret. Dan selama sinoman masih ada, tradisi ini belum benar-benar hilang. (Yun)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar