Radio, Dulu dan Sekarang

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Peringatan Hari Radio Internasional (13 Januari) mengajak kita menoleh ke satu medium yang pernah menjadi denyut utama kehidupan publik. Sebelum layar mendominasi ruang privat, sebelum gawai menjadi perpanjangan tangan manusia, radio lebih dulu hadir sebagai corong informasi, pengikat imajinasi, sekaligus penanda zaman. Ia bukan sekadar alat, melainkan pengalaman bersama.
Pada masa awal kemunculannya di awal abad ke-20, radio adalah lompatan teknologi yang revolusioner. Untuk pertama kalinya, suara dapat menembus jarak tanpa kehadiran fisik. Di Indonesia, radio memiliki sejarah yang lebih dari sekadar teknologis; ia berkelindan erat dengan perjuangan dan pembentukan kesadaran kolektif. Siaran radio menjadi sarana penyebaran kabar, propaganda perlawanan, hingga pengumuman yang menentukan arah sejarah. Radio adalah suara yang dipercaya.
Memasuki dekade-dekade berikutnya, radio mengukuhkan diri sebagai medium paling demokratis. Ia murah, mudah diakses, dan tidak menuntut kemampuan baca-tulis. Radio hadir di desa dan kota, di rumah tangga, pasar, sawah, hingga kendaraan umum. Ia menjadi pusat informasi, hiburan, dan pendidikan. Lagu-lagu diputar, sandiwara radio dipentaskan, berita disimak bersama. Radio bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi membangun kebersamaan.
Zaman bergerak. Televisi datang membawa visual, lalu internet hadir dengan kecepatan dan kelimpahan informasi yang nyaris tanpa batas. Media sosial dan aplikasi digital mengubah cara manusia mengonsumsi berita dan hiburan. Di titik inilah radio kerap dianggap tertinggal.
Faktanya, yang berubah bukanlah keberadaan radio, melainkan perannya. Radio tidak lagi berdiri sebagai sumber utama informasi tercepat. Fungsi tersebut telah diambil alih oleh media daring dan platform digital. Namun radio tidak punah; ia beradaptasi dan menemukan posisi baru. Dari media utama, radio bergeser menjadi media pendamping.
Di tengah dunia yang serba visual dan menuntut atensi penuh, radio menawarkan sesuatu yang justru langka. Ia bisa didengar sambil bekerja, menyetir, belajar, atau beristirahat. Radio tidak memaksa mata, tidak menyeret pendengarnya ke pusaran scrolling, dan tidak sepenuhnya dikendalikan algoritma. Dalam situasi kelelahan digital, audio kembali menemukan relevansinya.
Generasi mua menghargai radio yang mampu menghadirkan autentisitas, yang bertahan bukan yang sekadar memutar lagu atau membaca berita, tetapi juga membuka ruang percakapan, memahami keresahan zaman, dan berbicara dengan bahasa yang setara. Penyiar tidak lagi diposisikan sebagai corong otoritas, tetapi sebagai teman dialog. Di sinilah radio menemukan kembali sifat manusianya.
Dalam ranah musik dan hiburan, radio juga mengalami reposisi. Ia bukan lagi pengendali selera, karena pendengar kini memiliki kendali penuh melalui layanan streaming. Namun radio tetap berperan sebagai kurator dan penafsir. Ia memperkenalkan karya baru, memberi konteks, menghadirkan cerita, dan membuka ruang bagi musisi lokal yang kerap terpinggirkan oleh logika algoritma global.
Yang tak kalah penting, radio—terutama radio lokal dan komunitas—masih menyimpan modal sosial berupa kepercayaan. Di tengah banjir informasi dan disinformasi, radio tetap memiliki kedekatan geografis dan kultural dengan pendengarnya. Ia memahami denyut lokal, bahasa sehari-hari, serta realitas yang sering luput dari media besar. Radio menjadi ruang publik yang lebih intim dan berakar.
Hari Radio Internasional adalah pengingat bahwa radio telah, sedang, dan akan terus berubah mengikuti zaman. Selama manusia masih membutuhkan suara yang menemani, percakapan yang jujur, dan ruang dengar yang manusiawi, radio tidak akan kehilangan relevansinya. Ia mungkin tidak lagi menjadi pusat perhatian, tetapi justru di situlah kekuatannya bertahan. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar