Mendengar dengan Cara yang Berbeda
Refleksi Hari Tuli Indonesia

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com -
Tidak ada seorang pun yang menginginkan terlahir dalam keadaan yang disebut “berbeda”. Setiap manusia, sejak detik pertama kehadirannya di dunia, adalah bagian dari rancangan kehidupan yang utuh. Setiap kelahiran pada hakikatnya adalah sempurna, sesempurna Sang Pemberi Hidup yang Maha Sempurna. Maka ketika ketidaksempurnaan dilekatkan pada manusia semata-mata karena perbedaan yang tampak di mata awam sesungguhnya yang sedang dipertanyakan bukanlah manusia itu sendiri, melainkan cara pandang kita terhadap kesempurnaan.
Menyebut sebuah kelahiran sebagai tidak sempurna karena berbeda, sama artinya dengan meragukan kesempurnaan kehendak Tuhan. Setiap kehidupan, setiap kondisi, dan setiap peristiwa hadir bukan sebagai kekurangan, melainkan sebagai bagian dari kesempurnaan-Nya yang bekerja dalam rupa yang beragam. Dari titik inilah refleksi Hari Tuli Indonesia dimulai. Bukan dari rasa iba melainkan dari kesadaran bahwa tuli—atau tuna rungu—bukanlah cacat kemanusiaan. Ia hanyalah perbedaan cara manusia berelasi dengan dunia, khususnya dalam hal mendengar dan berkomunikasi.
Dalam sejarah sosial kita, ketulian sering dipahami secara sempit sebagai keterbatasan. Label ini kemudian berkembang menjadi stigma seperti sulit bersekolah, terbatas dalam pekerjaan, terhambat dalam pergaulan. Padahal, stigma tersebut lebih mencerminkan keterbatasan struktur sosial dan cara pandang masyarakat, bukan keterbatasan individu penyandangnya.
Perkembangan teknologi dalam beberapa dekade terakhir telah menggeser pemahaman ini secara fundamental. Kecanggihan alat bantu dengar digital, implan koklea, serta teknologi komunikasi berbasis teks dan visual, menjadikan ketulian bukan lagi hambatan besar untuk berpartisipasi penuh dalam kehidupan modern. Teknologi tidak hadir untuk “menyeragamkan” manusia, melainkan untuk menjembatani perbedaan agar setiap orang memiliki akses yang setara.
Implan koklea, misalnya, memungkinkan penyandang tuli tertentu untuk menangkap rangsangan suara melalui stimulasi langsung ke saraf pendengaran. Alat bantu dengar generasi terbaru mampu menyaring kebisingan, menyesuaikan frekuensi, bahkan terhubung dengan perangkat digital. Dengan dukungan ini, penyandang tuna rungu dapat mengikuti pembelajaran, berkomunikasi di ruang kerja, dan menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri dan produktif.
Namun teknologi hanyalah satu sisi dari persoalan. Tantangan yang lebih mendasar justru terletak pada penerimaan sosial. Tanpa lingkungan yang inklusif, secanggih apa pun alat bantu akan kehilangan maknanya. Hambatan terbesar bagi penyandang tuli sering kali bukan terletak pada telinga, melainkan pada sikap masyarakat yang belum terbiasa, belum sabar, atau belum mau belajar memahami perbedaan.
Pengalaman banyak penyandang tuli membuktikan bahwa mereka mampu menempuh pendidikan tinggi, meraih prestasi akademik, dan berkarier di berbagai bidang. Di ruang kerja yang inklusif, perbedaan cara mendengar tidak mengurangi profesionalisme dan kinerja. Yang dibutuhkan bukan perlakuan istimewa, melainkan kesetaraan akses dan penghormatan. Dalam konteks ini, penting ditegaskan bahwa disabilitas tidak identik dengan ketidakmampuan bersosialisasi.
Penyandang tuli memiliki komunitas, identitas, dan budaya yang hidup, termasuk bahasa isyarat sebagai sistem komunikasi yang utuh dan bermartabat. Bahasa isyarat bukan bahasa pengganti, melainkan bahasa yang sah, kaya ekspresi, dan memiliki struktur linguistik sendiri. Ketika masyarakat umum mulai mengenal dan menghormatinya, relasi sosial justru menjadi lebih setara dan sehat.
Hari Tuli Indonesia juga mengajak kita merenungkan makna “mendengar” secara lebih luas. Mendengar bukan sekadar fungsi biologis telinga, tetapi sikap batin: kesediaan memahami, memberi ruang, dan menghargai pengalaman orang lain. Dalam pengertian ini, seseorang yang secara fisik mampu mendengar pun bisa saja “tuli” secara sosial—tuli terhadap kebutuhan, aspirasi, dan keberadaan sesama.
Sebaliknya, penyandang tuli bisa menunjukkan kepekaan sosial yang tinggi. Mereka terbiasa membaca ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan konteks. Mereka mendengar dunia melalui perhatian dan empati. Di tengah masyarakat yang hari ini hidup dalam kebisingan informasi dan visual, pelajaran ini menjadi sangat relevan.
Peringatan Hari Tuli Indonesia pada akhirnya adalah undangan untuk membangun masyarakat yang tidak hanya ramah teknologi, tetapi juga ramah perbedaan. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, hambatan biologis semakin dapat dijembatani. Yang kini diuji adalah kedewasaan sosial kita: apakah kita mau menerima bahwa keberagaman bukan penyimpangan, melainkan bagian dari kesempurnaan kehidupan itu sendiri.
Dalam masyarakat yang adil, tidak ada manusia yang dianggap kurang hanya karena ia mendengar dunia dengan cara yang berbeda. Sebab setiap kehidupan, sejak awal kelahirannya, telah hadir sebagai bagian dari kesempurnaan-Nya—utuh, bermakna, dan layak dihormati. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar