SENI BUDAYA

Mengenang Umbu: Hidupkan Kembali Kegelisahan Kreatif

  • Administrator
  • Senin, 10 Agustus 2026
  • menit membaca
  • 6x baca
Mengenang Umbu:  Hidupkan Kembali Kegelisahan Kreatif

Mengenang Umbu: Hidupkan Kembali Spirit Kreatif

YOGYAKARTA, jogja-ngangkring.com — Mengenang Umbu Landu Paranggi tidak harus dilakukan dengan mengulang masa lalu. Warisan terpenting penyair yang dikenal sebagai “Presiden Malioboro” itu dapat diteruskan dengan membuka ruang bagi generasi muda untuk berpikir, berkarya, mempertanyakan keadaan, dan menemukan suaranya sendiri.

Semangat tersebut hadir dalam “Dialog dengan Batu” yang berlangsung Minggu sore, 9 Agustus 2026, di RoKopiRAN, Jalan KH Ali Maksum, Pojok Panggung, Krapyak, Yogyakarta. Anak-anak muda, penyair, seniman, dan pegiat kebudayaan bertemu melalui pembacaan puisi, orasi, diskusi, musik eksperimental, pencetakan karya, hingga sablon untuk mengenang dan mengambil spirit Umbu. 

Kegiatan yang digelar sehari menjelang hari lahir Umbu, 10 Agustus, sekaligus menjadi bagian dari rangkaian menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Tidak berhenti sebagai seremoni mengenang seorang tokoh, acara ini mencoba menghadirkan kembali nilai-nilai yang menjadi karakter perjuangan kebudayaan Umbu: keberanian berpikir, kepekaan sosial, kebebasan berekspresi, dan keberpihakan pada kemanusiaan.

Nama Umbu memiliki tempat penting dalam sejarah kebudayaan Yogyakarta. Melalui Persada Studi Klub (PSK) pada dekade 1970-an hingga 1980-an, ia membangun ruang perjumpaan bagi anak-anak muda yang datang membawa puisi, gagasan, pertanyaan, dan kegelisahan. Dari ruang itulah sejumlah generasi sastrawan dan seniman memperoleh kesempatan untuk tumbuh.

Budayawan Sigit Sugito menyebut Umbu nyaris menjadi mitos dalam sejarah kebudayaan Malioboro. Pengaruhnya kemudian berlanjut ketika ia membawa pengalaman membangun ekosistem sastra ke Bali. Kiprahnya menunjukkan bahwa kontribusi seorang seniman tidak hanya dapat diukur dari karya personal, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan ruang bagi orang lain untuk berkembang.

Menurut Eko Winardi, cara mengenang Umbu tidak harus dengan mereplikasi PSK sebagaimana bentuknya pada masa lalu. Yang lebih penting adalah meneruskan semangatnya: menyediakan ruang agar generasi baru dapat membaca, menulis, berkesenian, berdialog, sekaligus menemukan persoalan zamannya.

Umbu dikenal memiliki kemampuan mengenali dan menumbuhkan bakat muda. Ia tidak sekadar memberikan apresiasi, tetapi mendorong anak-anak muda untuk berproses dan berhadapan dengan kegelisahannya sendiri. 

Pandangan bahwa setiap generasi perlu mengurusi kegelisahannya masing-masing menjadi semakin relevan di tengah perubahan sosial dan kebudayaan hari ini.

Dalam “Dialog dengan Batu”, kegelisahan itu hadir melalui suara Kila Mustika, Jati Wiraguna, Elang Agni Khawarian, Okta Setiawan, Khuluqul Karim, Tazkiyah Ainul Qolbi, Niken Anjelita, Yuda Wirajaya, Okta Mahendra, dan Anastasia Hestu. Diskusi yang dipandu Mustofa W. Hasim, Sutirman Eka Ardana, Eko Winardi, dan Evidawati memperluas ruang refleksi. Musik eksperimental Nanang Garuda, live coffee printing Rudi Winarso, serta live sablon Family Merdeka menambah dimensi kreatif perhelatan tersebut.

Umbu tidak dibekukan sebagai figur masa lalu tapi dihidupkan melalui keberanian generasi baru untuk bertanya dan menciptakan karya. Seorang guru kebudayaan tidak benar-benar selesai ketika nyawanya hilang. Ia terus hidup ketika orang-orang yang pernah disentuh pemikirannya mampu berjalan dengan kaki sendiri. Jika kelak dari kegelisahan generasi muda lahir karya yang mampu “meledak” dan menggetarkan ruang kebudayaan, di sanalah Umbu menemukan kehidupan keduanya, sebagai gagasan yang terus tumbuh. (Tor)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar