Hujan Itu Rahmat, Banjir sebagai Pengingat
Refleksi Hari Lingkungan Hidup Nasional 10 Januari 2026

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com — Lebih dari 70 persen tubuh manusia tersusun dari cairan. Sejak dalam kandungan hingga akhir hayat, hidup manusia sepenuhnya bergantung pada air. Tanpa air kehidupan kehilangan daya hidupnya.
Setetes air hujan bukan sekadar peristiwa alam, melainkan tanda kasih sayang Allah kepada seluruh makhluk. Al-Qur’an menegaskan, “Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi, lalu Kami tumbuhkan dengannya kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen” (QS. Qaf: 9). Dalam setiap tetes hujan, ada rahmat Allah yang menghidupkan bumi.
Namun rahmat itu dapat berubah wajah ketika manusia mengkhianati amanahnya sebagai khalifah di bumi. Banjir, longsor, dan bencana ekologis bukanlah kesalahan hujan, melainkan akibat dari ulah manusia sendiri. Allah mengingatkan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41).
Banjir besar di Sumatera menjadi cermin yang menyakitkan. Hujan turun sesuai takaran-Nya, tetapi alam kehilangan fungsinya. Penebangan hutan liar dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit telah merusak keseimbangan ekologis. Akar sawit yang dangkal tidak mampu mengikat tanah dan menahan air sebagaimana hutan alami. Akibatnya, hujan yang seharusnya menjadi berkah justru berubah menjadi bencana.
Lebih dari seribu jiwa melayang dan puluhan ribu keluarga kehilangan tempat tinggal. Dalam perspektif iman, mereka yang wafat dalam musibah dapat dimaknai sebagai syahid. Di balik duka, ada ibrah: peringatan keras agar manusia menghentikan keserakahan dan kembali merawat bumi.
Sejarah para nabi mengajarkan hal serupa. Pada masa Nabi Nuh AS, hujan diturunkan secara luar biasa sebagai azab bagi manusia yang melampaui batas (QS. Al-Qamar: 11–12). Fir’aun pun ditenggelamkan karena kesombongan dan kezaliman. Dari sini jelas, air bisa menjadi rahmat atau azab—tergantung sikap manusia terhadap amanah kehidupan.
Mendung selalu mengandung air, tetapi Allah menurunkannya dengan ukuran yang sempurna. Tidak ada hujan yang salah. Yang keliru adalah manusia yang merusak sistem alam sehingga air kehilangan jalannya. Ketika hutan ditebang dan daerah resapan hilang, air tidak lagi meresap, melainkan meluap. Maka banjir adalah cermin ketamakan manusia, bukan kegagalan alam.
Dalam konteks itulah Hari Lingkungan Hidup Nasional 10 Januari 2026, dengan tema Gerakan Penanaman Sejuta Pohon, menjadi sangat relevan. Menanam pohon bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk taubat ekologis. Pohon menyerap air, mengikat tanah, menjaga cadangan air tanah, dan menyeimbangkan iklim mikro. Menanam pohon berarti mengembalikan fungsi alam sebagaimana dikehendaki Sang Pencipta. Gerakan ini penting agar tragedi seperti di Sumatera tidak terulang di daerah lain.
Indonesia memiliki kerentanan yang sama: hutan menyusut, daerah aliran sungai rusak, dan tata ruang sering dikalahkan kepentingan jangka pendek. Kesadaran harus dibangun dari semua lini—negara, dunia usaha, masyarakat, tokoh agama, dan media—karena menjaga lingkungan adalah bagian dari iman dan etika hidup.
Hujan akan selalu menjadi rahmat. Tetapi apakah ia hadir sebagai berkah atau berubah menjadi musibah, sangat bergantung pada pilihan manusia. Hari Lingkungan Hidup Nasional mengingatkan kita bahwa menanam pohon hari ini adalah ikhtiar agar hujan esok bukan peringatan yang terlambat disesali. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar