TERAS

Debrin, Setiap Goresan Jadi Semangat Baru

  • Administrator
  • Senin, 09 Desember 2024
  • menit membaca
  • 387x baca
Debrin, Setiap Goresan Jadi Semangat Baru

Debrin, Setiap Goresan Jadi Semangat Baru

Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Bagi Debora Rini, atau Debrin, seni melukis bukan hanya sekadar bentuk ekspresi, tetapi juga medium terapi dan perjalanan spiritual. Meski sejak 2020 mengalami gangguan penglihatan, Debrin tetap menghasilkan karya dengan penuh ketekunan, menjadikan keterbatasan fisiknya sebagai sumber kekuatan. Dalam pameran terbaru yang berlangsung 6-13 Desember 2024 di Studio Kalahan, Jogja, Debrin menampilkan 10 karya kecil yang sarat makna. 

Pada pembukaan pameran, Prof. Widodo Hadisaputro, Ph.D., seorang pakar biosains sekaligus pemerhati budaya dari Universitas Gadjah Mada, menyampaikan bahwa seni dapat menyampaikan pesan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

“Karya Debrin dan EneMentes menjadi jembatan komunikasi antara jiwa seniman dan pe0nikmat seni, menghadirkan nilai kemanusiaan dan spiritual yang mendalam,” ujarnya.

Dr. Ki Hadjar Pamadhi, MA (Hons), selaku kurator, menyebut bahwa lukisan Debrin adalah perwujudan doa dalam bentuk visual. Dengan komposisi warna yang matang dan proses yang penuh kesabaran, karya-karya ini memadukan keindahan spiritual dan kedalaman makna. 

“Debrin menghadirkan seni sebagai wujud pengabdian dan penyerahan diri kepada Sang Pencipta,” ungkapnya.

Salah satu karya Debrin  yang berjudul "Agape" mendapat apresiasi dari seniman sekaligus pemilik Studio Kalahan,  Heri Dono.  Heri menyebut bahwa lukisan tersebut merefleksikan nilai-nilai cinta kasih universal, setara dengan pesan mendalam dari karya-karya seni klasik, seperti The Last Supper karya Leonardo da Vinci. “Hidup ini singkat, tetapi seni dan intelektualitas mampu meninggalkan warisan yang panjang,” tutur Heri Dono.

Debrin tampil bersama kelompok EneMentes, yang beranggotakan enam alumni ISI Solo: Agoes Nuryanto, Agus Siswanto, Harbani Setyowati, Sumiyati Herman, Alitdj, dan Debrin sendiri. 

Dengan segala keterbatasannya, Debrin terus melangkah tanpa ragu.  Dia mengalami progres semangat seperti ungkapan Daniel Goleman bahwa kecerdasan emosi itu meliputi kemampuan  pengendalian diri, semangat dan ketekunan, serta memotivasi diri sendiri. Seni harus dihadapi dengan spirit "Sumarah" (bahasa Jawa) yang bermakna berserah penuh secara aktif pada Sang Khalik dalam segala situasi dan  kondisi.

Pameran ini bukan hanya tentang seni visual, tetapi juga kisah perjuangan, doa, dan cinta kasih yang terpancar dari setiap goresan. Nikmati perjalanan spiritual yang penuh inspirasi melalui karya-karya luar biasa ini! (Yun)

 

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar