"Negara Merobek Selimut Ibuku" Merawat Memori Kolektif Melalui Sastra dan Seni Rupa

YOGYAKARTA, jogja-ngangkring.com — Arus modernitas yang ditandai oleh percepatan informasi, transformasi teknologi, dan perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat, persoalan memori kolektif menjadi semakin penting untuk diperbincangkan. Tidak sedikit pengalaman sejarah, luka sosial, maupun pengetahuan kultural yang perlahan tersisih dari kesadaran publik. Dalam konteks inilah peluncuran buku dan pameran sastra-seni rupa bertajuk Negara Merobek Selimut Ibuku menemukan relevansinya.
"Negara Merobek Selimut Ibuku" tidak dimaksudkan sebagai slogan politik, melainkan metafora yang menggambarkan rapuhnya hubungan manusia dengan rasa aman, ingatan, dan ruang perlindungan yang selama ini menopang kehidupannya. Selimut dalam konteks tersebut menjadi simbol yang kompleks. Ia dapat dimaknai sebagai kehangatan, perlindungan, rumah, sekaligus memori yang terus dirawat di tengah situasi yang tidak menentu.
Diselenggarakan di Sanggar Keselatan, Yogyakarta, Jumat sore (5/6/26) kegiatan ini menghadirkan kolaborasi antara tiga penulis—Isti Nugroho, Indra Tranggono, dan Kamerad Kanjeng—dengan tiga perupa, yakni Moelyono, Rudi Winarso, dan Harjiman. Kolaborasi tersebut tidak dimaksudkan sebagai hubungan ilustratif antara teks dan gambar, melainkan sebagai perjumpaan dua medium ekspresi yang sama-sama berupaya membaca ulang pengalaman sejarah, relasi kuasa, dan berbagai persoalan kemanusiaan yang masih relevan hingga hari ini.
Acara diawali dengan penampilan seniman Yogyakarta, Aloysius Untung Basuki, yang membawakan sejumlah lagu puisi, termasuk sebuah karya yang diadaptasi dari puisi penyair Simon HT. Kehadiran Untung Basuki memiliki makna tersendiri mengingat kiprahnya yang panjang dalam tradisi lagu puisi Indonesia. Sejak dekade 1970-an, ia dikenal sebagai salah satu seniman yang konsisten mempertemukan puisi dan musik sebagai medium refleksi sosial dan kebudayaan.
Isti Nugroho saat seorang penulis yang pada saat acara tidak dapat hadir, mengangkat pengalaman kemanusiaan yang lahir dari situasi represif pada masa Orde Baru. Salah satu gambaran yang muncul dalam karya-karyanya adalah sosok ibu yang terus melipat selimut anaknya yang hilang akibat represi politik. Narasi tersebut menunjukkan bahwa kekerasan negara tidak hanya berdampak pada individu yang menjadi korban langsung, tetapi juga meninggalkan trauma sosial yang panjang bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Pandangan tersebut memperoleh resonansi dengan testimoni Menteri Hak Asasi Manusia RI, Natalius Pigai, yang menilai ketiga cerpen dalam buku ini bukan hanya menawarkan nilai estetik, tetapi juga berfungsi sebagai penanda zaman. Menurutnya, karya sastra memiliki kemampuan untuk merekam pengalaman sosial yang sering kali tidak tertangkap secara utuh oleh dokumen-dokumen formal sejarah. Oleh karena itu, sastra dapat menjadi instrumen penting dalam membangun kesadaran kritis sekaligus mencegah terulangnya praktik-praktik represif pada masa mendatang.
Sementara itu, Indra Tranggono menyoroti pentingnya romantisme dalam kehidupan manusia. Dalam perspektifnya, romantisme bukan sekadar nostalgia terhadap masa lalu, melainkan kemampuan mempertahankan harapan dan kemanusiaan di tengah realitas sosial yang sering kali keras dan menyesakkan. Sastra, karena itu, menghadirkan kemungkinan lahirnya dunia alternatif—sebuah ruang imajinatif yang memungkinkan manusia menegosiasikan kembali pengalaman-pengalaman sosial yang traumatis.
Indra juga mengingatkan bahwa dialog antara sastra dan seni rupa memiliki akar historis yang panjang dalam kebudayaan Indonesia. Salah satu contoh penting adalah kolaborasi semangat artistik antara Chairil Anwar dan Affandi melalui karya revolusioner Boeng, Ajo Boeng yang menjadi simbol perlawanan pada masa perjuangan kemerdekaan. Tradisi perjumpaan lintas medium tersebut menunjukkan bahwa karya seni tidak pernah lahir dalam ruang hampa, melainkan selalu berkaitan dengan konteks sosial dan sejarah yang melingkupinya.
Gagasan tersebut diteruskan oleh Kamerad Kanjeng, nama pena KRT Agus Istijanto Nagoro. Selama lebih dari empat dekade berkarya, ia secara konsisten menyoroti persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kedaulatan warga negara, ketimpangan relasi kuasa, serta pengalaman kelompok-kelompok yang termarjinalkan. Tema-tema mengenai kehilangan tanah, hilangnya ruang hidup masyarakat adat, hingga berbagai bentuk pengingkaran terhadap hak-hak sipil menjadi benang merah yang menghubungkan karya-karyanya sejak dekade 1980-an hingga saat ini.

Melalui pameran yang menyertai peluncuran buku, gagasan-gagasan tersebut memperoleh artikulasi visual dalam karya-karya Moelyono, Rudi Winarso, dan Harjiman. Masing-masing perupa menghadirkan perspektif yang berbeda mengenai hubungan manusia dengan sejarah, alam, tubuh, dan ruang hidupnya. Dengan demikian, pameran ini tidak hanya menjadi pelengkap bagi karya sastra yang diluncurkan, melainkan juga ruang refleksi yang memperluas kemungkinan pembacaan atas isu-isu yang diangkat dalam buku.
Pada akhirnya, Negara Merobek Selimut Ibuku dapat dipahami sebagai upaya kebudayaan untuk merawat memori kolektif di tengah kecenderungan masyarakat modern yang semakin mudah melupakan. Melalui sastra dan seni rupa, para seniman yang terlibat berupaya menghadirkan kembali pengalaman-pengalaman kemanusiaan yang penting untuk diingat, bukan semata-mata sebagai romantisme masa lalu, melainkan sebagai bahan refleksi bagi kehidupan sosial dan kebangsaan pada masa kini. (Tor)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar