SENI BUDAYA

Sosro Warsito Menjahit Keabadian Tradisi dalam Sebuah Blangkon

  • Administrator
  • Sabtu, 06 Juni 2026
  • menit membaca
  • 10x baca
Sosro Warsito Menjahit Keabadian Tradisi dalam Sebuah Blangkon

Sosro Warsito Menjahit Keabadian Tradisi dalam Sebuah Blangkon

Oleh: Yul

GUNUNGKIDUL, jogja-ngangkring.com — Kebudayaan tidak selalu bertahan melalui gedung-gedung megah, museum, atau dokumen sejarah. Dalam banyak peristiwa, ia justru hidup melalui ketekunan tangan-tangan sederhana yang bekerja nyaris tanpa sorotan. Di Padukuhan Clorot, Kalurahan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, keteguhan semacam itu menjelma pada sosok Sosro Warsito, seorang perajin blangkon yang selama lebih dari lima dekade mengabdikan hidupnya untuk merawat salah satu identitas kultural masyarakat Jawa.

Usia yang telah mencapai 78 tahun tidak mengurangi ketelatenannya. Setiap hari, Sosro Warsito masih duduk bersila di ruang kerjanya yang sederhana. Jemarinya bergerak perlahan namun pasti, menyusun lipatan demi lipatan kain batik menjadi sebuah blangkon gaya Yogyakarta yang sarat filosofi. Aktivitas yang bagi sebagian orang mungkin sekadar pekerjaan kerajinan, bagi Sosro merupakan laku budaya sekaligus bentuk pengabdian terhadap warisan leluhur.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, keyakinan Sosro tetap kokoh. Baginya, blangkon bukan sekadar penutup kepala, melainkan simbol identitas, martabat, dan kesinambungan peradaban Jawa.

"Saya menekuni pekerjaan ini karena punya keyakinan. Selama orang Jawa masih ada, blangkon tidak akan punah," ujarnya.

Pandangan tersebut tidak lahir secara tiba-tiba. Akar kecintaan Sosro terhadap kebudayaan Jawa tumbuh sejak masa mudanya ketika aktif dalam kelompok karawitan. Dunia seni tradisi mempertemukannya dengan sosok Kasan Dayat, seorang perajin blangkon dari Piyaman, Wonosari. Pertemuan itu menjadi titik awal perjalanan panjang yang kelak menentukan arah hidupnya.

Tahun 1969, Sosro mulai belajar secara langsung kepada Kasan Dayat. Dalam tradisi Jawa, proses tersebut tidak sekadar belajar keterampilan teknis, melainkan sebuah laku nyantrik yang menuntut kesabaran, kedisiplinan, dan penghormatan kepada guru. Selama hampir satu tahun, ia tidak hanya mempelajari teknik pembuatan blangkon, tetapi juga membantu berbagai pekerjaan sehari-hari sang guru, termasuk mencari pakan ternak.

Kesungguhan itu berbuah kepercayaan. Menjelang akhir hayatnya, Kasan Dayat menyerahkan seluruh peralatan pembuatan blangkon kepada Sosro. Amanat tersebut menjadi semacam estafet pengetahuan yang menghubungkan dua generasi perajin. Sejak tahun 1970, Sosro mulai menerima dan mengerjakan pesanan blangkon secara mandiri.

Sejarah panjang itu menjadikan dirinya bukan sekadar pengrajin, melainkan penjaga memori kolektif kebudayaan Jawa. Selama lebih dari setengah abad, kehidupannya nyaris tidak pernah terpisahkan dari kain batik, jarum, pola, dan lipatan-lipatan rumit yang menjadi karakter khas blangkon gaya Yogyakarta.

Konsistensi menjadi salah satu ciri yang membedakan Sosro dengan banyak perajin lainnya. Hingga hari ini ia hanya membuat blangkon gaya Yogyakarta atau Mataraman Yogyakarta. Ia tidak menerima pesanan model Surakarta karena memang tidak pernah mempelajari teknik pembuatannya secara utuh.

"Dulu saya hanya diajari membuat blangkon Yogyakarta. Sebelum sempat belajar model Surakarta, guru saya sudah meninggal dunia," tuturnya.

Pilihan untuk tetap setia pada satu tradisi justru mengukuhkan reputasinya sebagai salah satu maestro blangkon gaya Yogyakarta di Gunungkidul. Di tangannya, blangkon tidak sekadar menjadi produk kerajinan, melainkan representasi nilai-nilai ketelitian, keteraturan, dan harmoni yang selama berabad-abad menjadi bagian dari kosmologi budaya Jawa.

Kompleksitas pembuatan blangkon sering kali luput dari perhatian publik. Pada tahap tertentu terdapat proses wiru, yakni penyusunan lipatan-lipatan kain yang harus dilakukan secara presisi. Dalam satu bagian, jumlah lipatan dapat mencapai lima belas hingga tujuh belas susunan. Setiap lipatan harus memiliki ukuran dan posisi yang tepat agar bentuk akhir blangkon tampak simetris dan proporsional.

Kesalahan sekecil apa pun dapat mengubah karakter keseluruhan blangkon. Karena itulah Sosro lebih memilih mengerjakan sendiri sebagian besar tahapan produksi. Sentuhan personal dianggap penting untuk menjaga kualitas sekaligus mempertahankan standar estetika yang diwariskan gurunya.

Dalam aktivitas sehari-hari, ia didampingi sang istri, Surami, yang membantu proses menjahit dan beberapa tahapan produksi lainnya. Ketika pesanan meningkat, sejumlah warga sekitar turut dilibatkan. Namun tahap akhir hampir selalu berada di tangan Sosro sendiri. Ketelitian tersebut memungkinkan dirinya menghasilkan sekitar tiga blangkon setiap hari, terutama ketika kain telah selesai melalui proses wiru.

Jaringan pemesannya menunjukkan bahwa blangkon masih memiliki daya hidup yang kuat di tengah masyarakat. Produk buatannya tidak hanya digunakan oleh masyarakat DIY dan Jawa Tengah, tetapi juga dikirim ke berbagai daerah seperti Lampung, Kalimantan, Bali, Surabaya, Malang, Kebumen, hingga Pacitan.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa blangkon telah melampaui batas geografis maupun identitas etnis yang sempit. Penggunanya tidak lagi terbatas pada masyarakat Jawa, melainkan juga kalangan yang memiliki apresiasi terhadap nilai-nilai budaya Nusantara.

"Yang memakai blangkon sekarang bukan hanya orang Jawa. Banyak dari daerah lain juga memesan. Itu membuat saya semakin yakin bahwa blangkon masih dibutuhkan," katanya.

Beragam motif batik menjadi bagian penting dalam karya-karyanya. Motif Kumitir Tulis, Modang Tulis, Winarnan, Kumitir Prima, Modang Prima, Poleng Prima, Celeng Kewengen, Kesuma Prima, Wilis, hingga motif polos atau wulung menjadi pilihan yang tersedia bagi para pemesan. Di antara berbagai corak tersebut, motif Kumitir tercatat sebagai motif yang paling banyak diminati.

Harga blangkon buatannya berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per buah, tergantung jenis dan kualitas kain yang digunakan. Namun nilai ekonomis bukanlah orientasi utama yang dikejar Sosro. Baginya, keberlanjutan tradisi jauh lebih penting dibandingkan keuntungan material semata.

Misi kebudayaan itulah yang terus mendorongnya bertahan. Di tengah minimnya regenerasi perajin dan semakin terbatasnya minat generasi muda terhadap kerajinan tradisional, Sosro tetap memilih menapaki jalan sunyi pelestarian budaya.

"Saya ingin nguri-uri budaya Jawa. Jangan sampai budaya membuat blangkon ini hilang atau kalah dengan budaya lain," tegasnya.

Pengabdian panjang tersebut memperoleh pengakuan dari Pemerintah Daerah DIY melalui Anugerah Kebudayaan DIY Tahun 2025. Penghargaan itu diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya dalam menjaga keberlangsungan kerajinan blangkon sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda yang melekat pada identitas masyarakat Jawa.

Meski demikian, penghargaan formal bukanlah capaian yang paling membahagiakan baginya. Kebahagiaan terbesar justru hadir ketika melihat blangkon masih dikenakan dalam upacara adat, kegiatan kesenian, peringatan budaya, hingga berbagai aktivitas sosial masyarakat. Kehadiran blangkon di ruang publik menjadi pertanda bahwa ikatan masyarakat dengan akar budayanya belum sepenuhnya terputus.

Sosro memahami bahwa kebudayaan tidak bertahan karena kemegahan simbol, melainkan karena kesediaan manusia untuk terus merawatnya. Setiap jahitan yang ia buat merupakan bentuk perlawanan sunyi terhadap pelupaan. Setiap lipatan yang disusunnya adalah ikhtiar menjaga kesinambungan memori kolektif sebuah bangsa.

Rumah sederhana di Clorot itu akhirnya menjadi ruang tempat tradisi terus dipertahankan dari hari ke hari. Di sana, waktu seakan dijahit bersama kain batik, disusun dalam lipatan-lipatan rapi, lalu diwariskan kepada generasi berikutnya melalui sebuah blangkon.

"Saya berharap selama orang Jawa masih ada, blangkon tidak akan pernah punah. Itu yang selalu saya pegang sampai sekarang," ujar Sosro.

Kalimat itu bukan sekadar harapan seorang perajin tua. Ia adalah manifestasi keyakinan bahwa kebudayaan akan tetap hidup selama masih ada manusia yang setia merawatnya. Seperti Sosro Warsito, yang selama lebih dari setengah abad menjahit keabadian tradisi, satu blangkon demi satu blangkon. (*)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar