Mangan Ora Mangan Kumpul
Yogyakarta, jogja-ngangkring.com - Di dalam khazanah falsafah Jawa, ada satu ungkapan sederhana namun sarat makna, “Mangan ora mangan sing penting ngumpul.” Secara harfiah berarti “makan atau tidak makan, yang penting berkumpul.” Kalimat ini bukan romantisasi kemiskinan, melainkan cerminan struktur nilai masyarakat Jawa yang menempatkan kebersamaan keluarga sebagai pusat kehidupan. Namun, ketika falsafah ini dihadapkan pada realitas hari ini - terutama di Yogyakarta - muncul pertanyaan, "Apakah nilai ini masih relevan, atau justru mengalami pergeseran makna?" Dulu, ungkapan tersebut lahir dari masyarakat agraris dengan pola hidup komunal. Kebutuhan hidup relatif sederhana, tanah masih luas, dan relasi sosial menjadi “modal utama” bertahan hidup. Dalam konteks itu, berkumpul berarti saling menguatkan, secara emosional sekaligus material.
Hari ini lanskap itu berubah drastis. Jogja hari ini bukan lagi Jogja yang sama, ada paradoks yang makin terasa. Di balik citranya sebagai kota budaya dan pelajar, tersimpan kenyataan yang lebih kompleks. Upah yang cenderung rendah berhadapan dengan harga tanah yang terus melambung. Di beberapa titik, ruang tinggal bukan lagi soal “rumah”, melainkan soal “akses”—siapa yang mampu bertahan, siapa yang harus menyingkir.
Anak-anak muda Jogja, yang dulu tumbuh dalam lingkar keluarga besar, kini perlahan terdorong keluar. Ada yang bergeser ke pinggiran, ada yang memilih kota lain, bahkan ada yang harus menerima kenyataan tinggal di ruang sempit dengan biaya tinggi. Dalam situasi seperti ini, “ngumpul” tidak lagi sederhana. Ia menjadi sesuatu yang mahal—secara harfiah maupun emosional.
Kebersamaan yang dulu hadir setiap hari kini berubah menjadi momen. Lebaran, syawalan, atau sekadar pulang ketika ada waktu luang. Selebihnya, hubungan dijaga melalui layar—pesan singkat, panggilan video, atau sekadar tanda bahwa satu sama lain masih saling mengingat. “Ngumpul” bergeser makna, dari kehadiran fisik menjadi keterhubungan yang lebih abstrak. Di titik ini, falsafah “mangan ora mangan sing penting ngumpul” seperti diuji ulang oleh zaman.
Apakah ia masih relevan?
Jika dimaknai secara literal, mungkin tidak sepenuhnya. Mengabaikan kebutuhan ekonomi demi kebersamaan justru bisa menjadi beban baru. Hidup hari ini menuntut kemandirian finansial, mobilitas, dan kemampuan beradaptasi. Tidak semua orang bisa bertahan dalam satu ruang hanya demi mempertahankan simbol kebersamaan.
Secara essensi falsafah itu justru menemukan bentuk baru. Yang dipertahankan bukan “tidak makan”-nya, melainkan semangat untuk tidak tercerai oleh keadaan. Bahwa keluarga tetap menjadi titik pulang, meski tidak selalu bisa ditinggali. Bahwa kebersamaan tidak harus diukur dari seberapa sering duduk satu meja, melainkan dari seberapa kuat saling menopang ketika hidup menjadi berat.
Jogja, dengan segala paradoksnya, sedang mengajarkan satu hal penting: nilai lama tidak selalu hilang, tetapi sering kali berubah wujud.
“Mangan ora mangan sing penting ngumpul” hari ini mungkin tidak lagi berarti bertahan dalam satu atap tanpa kepastian ekonomi. Ia menjelma menjadi kesadaran baru—bahwa di tengah tekanan harga tanah, mahalnya kos, dan kerasnya realitas hidup, manusia tetap membutuhkan keluarga sebagai jangkar.
Bukan untuk menahan langkah, tetapi untuk memastikan bahwa sejauh apa pun pergi, selalu ada tempat untuk kembali—meski hanya dalam bentuk sederhana berupa pesan singkat, panggilan malam, atau rencana pulang yang terus ditunda namun tak pernah benar-benar hilang.
Dan mungkin, di situlah Jogja tetap menjadi Jogja. Bukan karena ia tak berubah, tetapi karena ia mampu menyimpan nilai lama di dalam bentuk-bentuk baru yang lebih relevan dengan zamannya. (Yun)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar